Rasa
rindu menyapa, detak jantung berdetak, hati bungkam, bibir dan aura tubuh
lainnya serasa bisu tanpa sebab. Mungkinkah ku menyayangi seseorang ataukah mencinta,
ku rasa seperti manusia yang kelak tak ada raga dan terasa rupa tak bersahaja.
Aku
selalu bertanya, mengapa setiap merasakan cinta padanya diriku tak berani
mengutarakannya ? memang aku adalah lelaki tapi apakah aku layak disebut lelaki
? orang-orang pasti akan menertawakan bila mereka tahu bahwa aku orang yang
selalu berangan-angan tinggi dan berkhayal diluar nalar.
Serasa semua manusia tak ada yang
bersahaja dan ku selalu menceritakan ini semua pada sahabatku yakni Hari dan
selalu ku tulis jua dengan sebuah lirik, dimana lirik itu ku tulis dengan kertas
utuh dan putih warnanya, lalu ku tuangkan sedikit demi sedikit tinta pulpen
yang berwarna hitam yang seakan kertas itu “hatiku” dan pulpen itu “rasaku”
yang menggebu untuk menduplikatkan “rasa” itu pada “hati”. Serasa kertas putih
tadi menjadi hitam, dimana-mana coretan demi coretan, tulisan demi tulisan, dan
debu demi debu yang menempel dikertas usang
tersebut. Datang radikal yang mencoba berdialog denganku.
“Mengapa kertas itu menjadi berdebu
? seharusnya hanya ada tinta dan kertas”. Radikal berbicara tanpa berwujud.
“Kertas tersebut telah usang
dimakan jaman jadi begitulah fisiknya, memang kertas yang ku tulis berpadu
dengan tinta hitam dan lirik itu benar adanya. Namun itu bukan sekedar lirik
saja melainkan rasaku pada seseorang yang telah lama ku pendam”. Jawabku.
“Siapa kah dia ? kenapa engkau tak
berani mengungkapkannya kawan ?”. Mahluk radikal itu mencoba tuk meyakinkan ku
dan radikal tersebut sepertinya tak asing lagi dengan sosokku.
“Dia adalah Meiysa, gadis yang ku
suka sejak lama. Aku berani tapi ragaku yang mencoba menahanku”. ujarku
merenung melihat kearah lain.
“Engkau tak seharusnya seperti
itu, pikirlah keberanian adalah tanda awal mula kisah mu dengan dirinya, kau
coba saja kawan”. Radikal tersebut semakin membantuku untuk menjauhkan rasa
malu.
“Tapi aku dan dia sangatlah
berbeda !”. jawabku.
“Berbeda karna apa ?”. ujar
radikal.
“Rasa dan Pikiran, dan berbagai
hal lainnya”. Ucapku pada radikal tersebut.
“Engkau tak seharusnya memikirkan
yang seperti itu kawan, hal yang kau takutkan tersebut hanyalah formalitas
duniawi saja. Tutur kata radikal dengan semakin merangkul anganku.
“Tapiku sadar, Aku hanyalah
manusia pas-pasan yang mencoba hidup ditengah kerasnya sistematika dunia ini
dan pula ku hanyalah segelintir orang minoritas bawahan yang jauh dari kata
senang”. Jawabku dengan kerasnya.
“Janganlah kau tanamkan perkataan
mu itu didalam hidupmu, karna kan merusak keindahan hidupmu. Bila kau lihat
diluar sana, masih banyak orang seperti mu bahkan jauh lebih darimu yang
menjadikan mereka nyaman”. Ucap radikal itu yang coba menyadarkanku.
Sekejap aku membayangkan perkataan
dari mahluk radikal tersebut,namun ku bertanya pada ragaku. “siapakah mahluk
radikal itu ?” ternyata radikal itu adalah rasa didalam diriku yang coba
membantu meyakinkanku. Hari itu, kucoba bangkit dari keterpurukan yang seakan
meneror dan mendoktrin secara perlahan-lahan.
* * * * * * * * * * * *
Awal mula kisah cerita antara aku
dan dia (meiysa). Aku Gani murid SMA negeri di kota bandung dan aku ditemani
sahabatku yang tidak lain dialah Hari. Hari lelaki yang hobinya bercanda dan sering
juga memberi motivasi padaku dan teman-temannya dikelas, dia juga orangnya cerdik.
Aku dan Hari berteman sejak kami duduk dibangku SMP maka tak banyak orang
mencela kami seperti adik dan kakak, namun kami mengelak, karna kami adalah
kawan seperjalanan.
Bukan hanya kami berdua melainkan
ada Meiysa. Dia wanita yang pintar dan dia tidak mudah mengenal pada orang
lain. Meiysa pun se-SMP dengan aku dan Hari, namun ku mengenali dia saat akhir
tahun menuju rangkaian UN pada SMP, karna dia pindahan dari kota lain.
* * * * * * * * * * * *
Pada suatu malam, kucoba untuk
mengirim pesan singkat lewat telepon genggamku, dengan sangat gugup ku mengirim
pesan singkat padanya dan ternyata ia membalasku, seakan tak menyangka bahwa
dia membalas pesan singkat yang dikirim oleh ku. Betapa bahagianya aku bisa
berpesan singkat dengan dirinya, Meski diriku terlihat gila.
Nomor telepon ia telah ku punya
pada semasa SMP dulu, namun ku baru berani sekarang untuk mengirim pesan
singkat padanya. Tetapi wanita itu terasa sedih, lalu kucoba tanya padanya dan
ternyata ia sedih karna kekasihnya. Aku
berdiam melihat pesan singkat darinya, dan baruku tahu bahwa dia telah
mempunyai seorang kekasih, tapiku heran mengapa ku terus mendengarkan jeritan
perih yang ia alami. Mungkin kebanyakan orang lain malas tuk membahas atau
mungkin membalasnya tapi diriku melainkan sebaliknya, karna dengan cara inilah
ku bisa mengenal sosok dia yang ku damba sejak lama. Tak dengan itu jua ku
telah mengkoleksi foto dirinya, memang orang mengira aku gila, tapi yah inilah
diriku yang ku bisa hanya seperti ini.
Lama terus menerus ku berpesan
singkat dengannya, dia terus mencurahkan hatinya tentang kekasihnya. Disaat itu
ku tak bisa pungkiri, ku tak bisa mengelak seolah-olah hati ini berteguh dengan
tanganku untuk membalas pesan darinya.
--------------------------------------------------------------------------
kuakui
bahwa kau sosok sempurnaku yang nyata
aku
tak tau harus bagaimana menyikapinya
kuakui
bahwa kau sosok sempurnaku yang nyata
tapi sayangnya ku
tak berani mengungkapkan makna isi dari hati ini
(Agus Setiawan, Akan Ku Pertahankan
Langkahku)
--------------------------------------------------------------------------
Hari demi hari ku lewati, pagi
siang dan malam ku lalui, ku tak bisa mengutarakan bahwa ku ingin dirinya ada
di sampingku. Dia selalu bercerita lewat telepon, bercerita tentang dia dan
kekasihnya. Pada saat ku berdiam menunggu pesan darinya, “semoga saja dia tidak
bercerita lagi tentang kekasihnya”. Ujar harapku didalam hati, lagi-lagi dia
bercerita tentang ia dengan kekasihnya. Aku hanya sebagai tumpuan antara dia
dengan dirinya, seketika ku lemas, didalam benak rasa hatiku berkata, “Kau tidak
tahu Meiysa bahwa ku ingin milikimu tapi kau selalu bertanya dan bercerita
tentangnya, Setiap ku bertanya dengan pembahasan yang lain kau seakan-akan
membalikan topik bahasan yang ku harapkan”. Seakan ku terfokus pada dirinya.
--------------------------------------------------------------------------
tak
sadarkah engkau, kau datang pada siapa
saat
kau merasa terluka, saat kau hilang bahagia
saat ku tanya
hatimu, ku yakin tutur jawabmu mengatakan diriku
tak
sadarkah engkau, telingaku tlah banyak
mendengar semua
tentang dirimu, semua curahan hatimu
tapi apa telingamu,
pernah mendengar semua resah tentangku
ku
biarkan sampai kau bisa menyadarinya
ku
biarkan sampai kau sadari ku inginkan dirimu
pergilah bersama
dirinya
lupakan
hadirku lupakan semua tentangku
bergembiralah
dengannya
anggap ku tak
pernah ada dalam kehidupanmu..
selama ini
(Twinkle
And Bad Face, Sadarilah)
--------------------------------------------------------------------------
Aku
membuka jendela kamarku, ku melihat rembulan di kelilingi bintang yang terang
seakan membawaku pada keindahan malam yang sangat menakjubkan dan ku lihat
setitik cahaya jauh diluar astero sana, namun mengapa pikiranku terpaku pada
sosok Meiysa lalu ku bertanya pada diriku ini “mengapa sosok dia selalu ada bila
ku tak lagi memikirkannya ?”. Lalu ku tutup jendela kamarku kemudian ku
tertidur dan lagi-lagi sosok meiysa ada didalam mimpiku. Ku lalu terbangun dan
berpikir, ku bertanya lagi pada diriku, “mengapa hampir setiap hari ku seperti
ini ? apakah ini menunjukan bahwa ku harus mengutarakan rasa ini padanya”.
Tidak sadar matahari pun menyinari
bumi dengan cahanya lalu ku beranjak dari tempat tidurku dan mempersiapkan
perlengkapan sekolah karna hari ini ku masuk sekolah.
* * * * * * * * * * * *
Pada
saat tiba disekolah, ku langsung menghampiri Hari yang saat itu berada dikantin,
sesampai tiba dikantin aku langsung bertanya pada Hari tentang sosok meiysa.
Hari tidak tahu bahwa aku telah lama suka padanya.
“Ri
kamu kenal dengan meiysa ?”. Tanyaku seakan-akan ku tak mengenalinya.
“kenal lah, kamu kan sama aku kenal
dia sejak SMP lagian kamu sekelas dengannya. apakah kamu amnesia Gan ?”. Jawab
hari dengan wajah aneh karna pertanyaan ku tadi.
“Iyah engga lah, aku boleh tanya
soal Meiysa engga ?”. Dengan gugupnya aku karna baru kali ini ku menanyakan
Meiysa padanya.
“Kamu suka padanya ?”. Jawab hari
sambil menatap muka ku yang gugup.
“Hahh”. Lalu ku bingung karna
Hari tahu bahwa ku suka padanya, tapi perasaan aku belum pernah bilang pada
Hari tentang aku suka padanya.
“Engga woles ajah lagi bung”.
Ujar Hari, dia selalu memanggil ku dengan tambahan “Bung”, lalu dia berkata
lagi.
“Muka mu merah tuh Gan padahal ku kan bercanda
haha”. Ucap Hari dengan polosnya dan dia menertawakan ku.
“Mana engga ko”. Jawabku tertegun
malu.
“Iyah, kamu tadi mau tanya apa tentangnya,
sebelum aku masuk kelas nih”. Ujar Hari.
“Kamu tahu sosok dia ga ?”.
Ucapku sambil berkata pelan.
“Ada apah gitu gan, biasanya juga
kamu ga pernah menanyakan dia padaku”. Ucap Hari heran karna pertanyaanku.
“Engga, aku ingin tahu aja
tentang dia“. Jawabku singkat.
Tak lama Hari pun berpamitan
padaku karna dirinya akan melaksanakan ulangan.
“Bung aku masuk duluan, “waduh ulangan
nih ! dibantai deh gue”. Entar pulang ku jawab pertanyaan mu tadi“. Ucap Hari
sambil tegang.
“okeoke.. emangnya kamu ngapalin
? kemarin kan kamu main dirumah ku”. Tanyaku padanya dengan agak teriak, karna
Hari telah jauh dariku.
“hehe.. kamu kaya yang gatau
siapa aku saja Bung”. Jawab Hari sambil berhenti melangkahkan kakinya dan menengok
kebelakang dengan tertawa ciri khasnya.
Memang Hari yang ku kenal dari
SMP sampai SMA orangnya males belajar dia hanya membuka buku saja, tapi anehnya
ia selalu bisa mengerjakan soal-soal maupun pertanyaan dari guru. Yasudah aku
masuk kelas dari pada ku dikira kesiangan.
Tak lama kemudian ku dikelas
bertemu Meiysa, dan aku pun berpura-pura melihat ke kursi yang akan ku duduki,
karna pada saat itu aku malu padanya.
* * * * * * * * * * * *
Disaat jam pelajaran akan
berakhir ku menunggu bel pulang dan tak lama kemudian bel pun berbunyi, tidak
salahnya ku langsung keluar kelas, karna malu bila berlama-lama berada didalam kelas.
Meiysa selalu berdiam sejenak dikelas dengan teman-temannya dan aku pun jika
melihat Meiysa dengan teman-temannya selalu salah tingkah.
Setelah keluar lalu ku tunggu
sahabatku yaitu Hari dan tak lama kemudian Hari pun datang bersama teman-teman
kelasnya, disana teman Hari langsung meninggalkan Hari yang saat itu bersamaku.
Teman-teman Hari pun menyalakan sepeda motor dan berpamit kepada Hari.
“Ri aku pulang duluan !”. Tanya
Teman-teman Hari padanya, dengan melewati kami berdua.
“oke siap”. Jawab Hari sambil
tersenyum dan melambaikan tangannya.
Memang
Hari orangnya gaul, akrab dan ramah dengan siapa saja, apalagi dia mendapatkan
teman dikelas-kelasnya yang mau berbagi. Tidak dengan diriku yang harus belajar
dikelas yang faktor drajatnya jauh dariku, paling ku kenal dikelas hanya selintas
saja, maka dari itu kelas Hari dengan kelas ku berbeda, tidak hanya berpola
fikir dari segi pertemanannya pun kelas Hari lebih terbuka dari pada kelasku.
Karna itulah aku bila disekolah selalu dengan Hari dan tidak sedikit juga
teman-teman Hari menganggapku sebagai teman sekelasnya. Kami pun pergi dari
sekolah untuk bergegas menuju rumah.
“Gan”. Sapa Hari padaku sambil
mengendarai motor antiknya.
“ada apa Ri ?”. Jawabku padanya.
“bantu aku ngerjain desain baju, lumayan nih projectan“.
Ucap Hari sambil memohon padaku.
“okeh gampang bos” dengan
tertawanya aku, lalu ku berkata lagi padanya
“buat siapa nih ? oteng mengalir
deras dong hehe”. Dengan polosnya ku merayu padanya.
“ada ! temen nih bung, haha okeh gampang”.
Jawab hari dengan senyuman nya.
* * * * * * * * * * * *
Kami pun tiba dirumah ku, dan
Hari segera menyalakan komputer yang ada diatas meja. Memang Hari tidak
malu-malu bila datang ke rumahku karna ia sudah terbiasa, orang tua dan kakak
ku pun sudah terbiasa kedatangan Hari. Memang Hari bisa dibilang anak dari
keluarga berada namun ia tidak menjadikan itu semua sebagai jaminan bahkan dia
tidak menyombongkan bahwa ia orang berada. Mungkin menurutku orang seperti ia susah
dicari bisa disimbolkan 1 dari 1juta orang atau bahkan lebih.
Selagi Hari sibuk berpikir untuk membuat
contoh model desain baju dan aku pun menyiapkan alat tuk mewujudkan desain
tersebut, disaat ku ber imaji Hari lalu beranjak dari kursi untuk menuju ke
Toilet yang jaraknya dibawah.
Telepon
Genggamku berbunyi segeralah ku lihat siapa yang menelponku dan ternyata meiysa
menelponku, disaat itu ku heran “mengapa meiysa menelponku, baru kali ini ia
menelponku, biasa ia hanya mengirim pesan singkat padaku. Tapi tak apalah”
ucapku dalam hati. Lalu tak lama ku terima telepon darinya, ternyata besok ia
mengajak ku untuk mengantar dirinya ke toko buku, ku bahagia bercampur heran.
Tak lama lalu datanglah Hari dengan wajah bingung karna memikirkan project
desain tersebut.
“kenapa
Ri ?”. Sapa ku padanya dengan sedikit senyum karna kejadian tadi.
“aku
bingung nih Gan, desain itu takut belum selesai”. Jawab Hari dengan muka kecut.
“memangnya
kapan dikirim itu desain ?”. Ucapku pada Hari.
“besok nih”. Jawab Hari dengan
singkat.
“yaelah Ri, bukannya bilang dari
tadi ! ngebut ajah nih. Semoga besok bisa dikirim tuh orderan”. Ucapku sambil
menegaskan padanya.
“okeh siap bung Gani hehe”. Jawab
Hari dengan senyum ciri khasnya.
“baru bisa ketawa”. Celaku
padanya dengan sedikit menyindir.
“hahahaha”. Semakin jelas tawa
dari seorang Hari.
Selagi kami mengerjakan desain
yang akan dibuat, Hari yang sedang merancang dengan manual dan akupun
meneruskan gambaran dari Hari menggunakan “waxom” tiba-tiba Hari menyinggung
aku untuk melanjutkan obrolan tadi pagi dikantin. Disaat kami terus
membicarakan tentang sosok Meiysa Hari pun memberi saran dan memberi masukan
padaku setelah saran dan masukan yang Hari berikan, akupun coba pahami dan pada
akhrinya Hari mendukung agar aku bisa dapatkan dirinya yaitu Meiysa.
Malam semakin gelap, bulan pun semakin bulat,
tanpa sadari kami mengerjakan hingga larut malam dan akhirnya desain itu
selesai. Kami berdua pun lalu tertawa karna akhirnya project desain baju itu bisa
kami atasi. Ku coba berbaring dikasur untuk merehabkan otot pegal yang ada di
tubuh dan Hari pun berkata.
“Gan besok anter aku ke rumah
temenku, dia minta anter desainnya”. Tanya Hari.
“Waduhh sorry Ri, kayanya gabisa
aku besok ada urusan”. Jawabku padanya, sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal
ini padanya tapi besok aku harus pergi ke toko book bersama Meiysa.
“yahh.. tapi tak apalah, tapi ini
terima kasih atas bantuanmu bung”. Ucap Hari sedikit kecewa karna tak bisa ku
antar dirinya namun semua kecewa itu hilang disaat dia melihat desain baju tersebut
sudah ada di genggaman tangannya.
“Iyah siap, kalo bisa project
desainnya setiap hari yah Ri”. Ucapku sambil ketawa.
“okeh siap bung”. Jawab Hari
sambil ia keluar dari rumahku.
* * * * * * * * * * * *
Matahari terbit bulan pun tak
terlihat, awan pun berwarna biru, bangunku dari tidur lalu ku tak sabar untuk
menunggu jawaban dari Meiysa, tidak lama Meiysa menyuruhku ke tempat toko buku
yang dijanjikan ia semalam. Ku langsung bergegas dan tak lupa berdo’a, terlihat
mulutku berkomat-kamit agar hari ini dia
bisa menerima ku.
Segera tiba didepan toko buku
tersebut lalu ku kirim pesan singkat padanya dan ia pun membalas, ia menyuruhku
masuk ke toko buku tersebut karna Meiysa telah berada didalam toko tersebut.
“maaf
yah kamu jadi menunggu lama”. Sapaku pada Meiysa dengan terrguk malu dan Meiysa
terlihat sedang menungguku
“engga ko Gani, ini juga aku baru
sampai“ Jawab Meiysa dengan senyuman indahnya. Ku merasa gugup dekatnya.
--------------------------------------------------------------------------
terbit sang
fajar diufuk timur
membawa nafas
ini terhentak
melihat semua
disana sini
ku hanya
terpaku padamu
bersinarlah
engkau wahai pelangi
hapus cerita
obsesi dahulu
karna adaku
disini menanti
harapku
selalu bersamamu
(Agus Setiawan, Sosok SempurnaKu)
--------------------------------------------------------------------------
Aku dan Meiysa lalu mencari Buku Novel yang disukai
Meiysa. Disana pun aku mencari momen yang tepat untuk mengungkapkan isi hatiku padanya,
seiring menunggu momen itu aku coba untuk berinteraksi dengannya dan jauh
mengenal dia, dengan berdekatan inilah ku bisa bersamanya. Setelah lama mencari
akhirnya Novel itu berhasil ku temukan dan segeralah ku memberitahu Meiysa
bahwa Novel yang ia cari sekarang ada ditangan kananku, Meiysa pun datang
menghampiri ku. Menurutku ini momen yang tepat untuk mengutarakan perasaanku
padanya.
Novel itu ku pegang lalu ku kasih
padanya, pada saat itu Meiysa berada dihadapan ku dan aku berkata.
“maukah kau jadi peri hatiku ?”.
Tuturku padanya dengan melihat ke arah bawah lantai, karna ku gugup dan malu. Ternyata
Meiysa terteguk merasa heran karna mungkin ku bisa berkata seperti itu.
Dia yang ku harap menjawab dengan
satu kata “MAU” ternyata ia hanya tersenyum melihatku dan mengambil Novel itu
di genggamanku, setelah Novel itu berada ditangannya dengan menarik nafas ia
berkata.
“maaf Gani aku tak bisa
menerimamu”. Ia yang ku kira akan
menerimaku tapi ternyata malah menolak ku.
Lalu ku dengan tegas berkata
padanya.
“mengapa ? apakah kamu masih
mempunyai kekasih ?”. Tanyaku padanya.
“kamu adalah teman ku yang paling
mengerti dan aku telah tidak berhubungan lagi dengannya”. Tutur jawabnya.
“tapi aku inginkan mu Meiysa.
Lagi pula kenapa kamu tidak bilang padaku ?”. Ujarku padanya.
“iyah aku tahu, mengapa meski
bilang padamu”. Jawabnya.
“tapi kamu tahu dari siapa bahwa
aku suka padamu ? biasanya kamu bercerita banyak padaku”. Ucapku padanya.
“Hari,ia bercerita bahwa kamu
suka padaku sejak kita masih duduk di SMP dan ia juga ingin aku menerima mu,
tapi aku tak bisa karna menurut ku kita hanya berteman saja”. Ucap Meiysa
meyakinkanku.
“yasudah meiysa, aku juga dari
awal sudah menebak bahwa pada akhirnya kamu juga takkan menerimaku”. Ucapku
tertekuh lesu.
“maaf yah Gan”. Jawab Meiysa
dengan perkataan lembut karna dirinya terasa bersalah jadi ia pun tak enak
padaku.
“iyah taka pa ko”. Ucapku dengan
tersenyum. Namun tak bisa ku pungkiri aku hanya dianggap sebatas teman olehnya.
--------------------------------------------------------------------------
tuliskanlah cerita tentang rasa bahagia
kau dengannya disana, merasa semua sempurna
mungkinku disini kau anggap teman biasa
tapiku ingn kau anggap ku lebih dari temanmu
(Twinkle And Bad face,
More Than Friend)
--------------------------------------------------------------------------
* * * * * * * * * * * *
Besoknya ku berbicara pada
sahabatku Hari dan Hari pun membantu ku untuk tidak terlalu memikirkan meiysa.
“Ri kamu sudah tahu tentang semua
ini”. Ucapku pada sahabatku Hari.
“iyah Gan, maaf sebelumnya aku
tidak memberi tahu mu bahwa pada akhirnya akan miris jua”. Ucapnya padaku
dengan mengelus pundak ku.
“tak apah lagi Ri”. Jawabku
padanya.
“yasudah jangan pikirkan dia
lagi, masa temanku cengeng”. Ucapnya yang coba menghiburku.
“iyah siap bung Hari”. Jawabku
dengan tersenyum sambil mendorongnya.
Banyak orang tidak tahu tentang
aku dan Meiysa, yang tau hanyalah sahabatku Hari. Dan hari ternyata sudah tahu
bahwa aku suka pada Meiysa sejak di SMP dulu, ku tak tahu mengapa Hari bisa
tahu tentang hal tersebut tapi yasudahlah toh hasilnya nihil.
* * * * * * * * * * * *
Meiysa dan aku masih menjaga
keharmonisan pertemanan, dia sering mengajak ku keluar dan aku pun sama,
berpesan singkat, nelepon namun semua itu ia masih anggapku teman. Namun Hari
dan Meiysa tidak tahu menahu, bahwa ku sebenarnya masih memendam rasa pada
Meiysa. Dambaan akan angan-angan bersama putri senanjung yang ku inginkan sejak
lama dan bermahkotakan perasaan itu yakni “Meiysa”.
Lalu kami bertiga pun “Lulus”
sekolah, Hari menganggap bahwa aku sudah lupa dengan kejadian di toko buku itu,
lagi pula Hari tau sekarang bahwa ku sibuk dengan pekerjaanku menjadi Designer,
Editoring and Handling disalah satu Brand terbaik dan tertua asal US ini yaitu
R** ***L dan dia juga tahu kesibukan kuliahku jurusan MUSIC and LITERATURE (karna
aku lagi-lagi sekampus dengannya).Tak hanya itu juga, ku membuat project music
dengan berduet bersama Hari “sahabatku” dengan genre pop-ballad. Namun Meiysa
meneruskan kuliahnya di negeri sebrang sana, tapi kami sering menanyakan kabar
satu sama lain. Aku dan Meiysa pun masih sebatas teman tidak lebih.
--------------------------------------------------------------------------
Aku
sadar siapa diriku yang tidak mungkin menggapaimu
kau terlalu indah untuk jadi kenyataan
namun
bila ada sedikit ruang hati untuk kusinggahi
takkan
pernah ku sakiti dan takkan pernah ku berpaling
(Fiersa Besari, Kamu)
--------------------------------------------------------------------------
* * * * * * * * * * * *
--------------------------------------------------------------------------
berdiri
di atas kemang
menanti
waktu memihak
sunyi
yang tak mau pergi
hati
berlari memeluk mu
tangan
ku kosong genggamlah
pundak
ku kuat rebahlah
sampai
kapan kau membeku ?
sembunyi
di rasa sakit mu
coba
kau cari siapa yang mampu menunggumu
akulah
orang itu akulah orang itu
dan
bila ada yg ingin tua bersamamu
akulah
orang itu akulah orang yang kau cari
disisi
gelap merindu
terbata
untuk memulai
biar
ku basuh perih mu
meski
tak berbalas apa pun
terhempas
membias dan tak tentu arah
kau
terus pergi
memberi
harapan menafikan lagi dan lagi
(Fiersa Besari, Kala)
--------------------------------------------------------------------------
* * * * * * * * * * * *
Karya, Agus Setiawan
alurnya bagus, mudah dipahami dan diresapi. serasa jadi si aku, cuma masih agak kaku yah tulisannya, dan masih gantung banget masih penasaran sama kelanjutannya hihi
BalasHapus