Senin, 12 November 2012

DI KALA RASA TAK MENYATU



                Rasa rindu menyapa, detak jantung berdetak, hati bungkam, bibir dan aura tubuh lainnya serasa bisu tanpa sebab. Mungkinkah ku menyayangi seseorang ataukah mencinta, ku rasa seperti manusia yang kelak tak ada raga dan terasa rupa tak bersahaja.

                Aku selalu bertanya, mengapa setiap merasakan cinta padanya diriku tak berani mengutarakannya ? memang aku adalah lelaki tapi apakah aku layak disebut lelaki ? orang-orang pasti akan menertawakan bila mereka tahu bahwa aku orang yang selalu berangan-angan tinggi dan berkhayal diluar nalar.

Serasa semua manusia tak ada yang bersahaja dan ku selalu menceritakan ini semua pada sahabatku yakni Hari dan selalu ku tulis jua dengan sebuah lirik, dimana lirik itu ku tulis dengan kertas utuh dan putih warnanya, lalu ku tuangkan sedikit demi sedikit tinta pulpen yang berwarna hitam yang seakan kertas itu “hatiku” dan pulpen itu “rasaku” yang menggebu untuk menduplikatkan “rasa” itu pada “hati”. Serasa kertas putih tadi menjadi hitam, dimana-mana coretan demi coretan, tulisan demi tulisan, dan debu demi debu yang  menempel dikertas usang tersebut. Datang radikal yang mencoba berdialog denganku.
“Mengapa kertas itu menjadi berdebu ? seharusnya hanya ada tinta dan kertas”. Radikal berbicara tanpa berwujud.
“Kertas tersebut telah usang dimakan jaman jadi begitulah fisiknya, memang kertas yang ku tulis berpadu dengan tinta hitam dan lirik itu benar adanya. Namun itu bukan sekedar lirik saja melainkan rasaku pada seseorang yang telah lama ku pendam”. Jawabku.
“Siapa kah dia ? kenapa engkau tak berani mengungkapkannya kawan ?”. Mahluk radikal itu mencoba tuk meyakinkan ku dan radikal tersebut sepertinya tak asing lagi dengan sosokku.
“Dia adalah Meiysa, gadis yang ku suka sejak lama. Aku berani tapi ragaku yang mencoba menahanku”. ujarku merenung melihat kearah lain.
“Engkau tak seharusnya seperti itu, pikirlah keberanian adalah tanda awal mula kisah mu dengan dirinya, kau coba saja kawan”. Radikal tersebut semakin membantuku untuk menjauhkan rasa malu.
“Tapi aku dan dia sangatlah berbeda !”. jawabku.
“Berbeda karna apa ?”. ujar radikal.
“Rasa dan Pikiran, dan berbagai hal lainnya”. Ucapku pada radikal tersebut.
“Engkau tak seharusnya memikirkan yang seperti itu kawan, hal yang kau takutkan tersebut hanyalah formalitas duniawi saja. Tutur kata radikal dengan semakin merangkul anganku.
“Tapiku sadar, Aku hanyalah manusia pas-pasan yang mencoba hidup ditengah kerasnya sistematika dunia ini dan pula ku hanyalah segelintir orang minoritas bawahan yang jauh dari kata senang”. Jawabku dengan kerasnya.
“Janganlah kau tanamkan perkataan mu itu didalam hidupmu, karna kan merusak keindahan hidupmu. Bila kau lihat diluar sana, masih banyak orang seperti mu bahkan jauh lebih darimu yang menjadikan mereka nyaman”. Ucap radikal itu yang coba menyadarkanku.

Sekejap aku membayangkan perkataan dari mahluk radikal tersebut,namun ku bertanya pada ragaku. “siapakah mahluk radikal itu ?” ternyata radikal itu adalah rasa didalam diriku yang coba membantu meyakinkanku. Hari itu, kucoba bangkit dari keterpurukan yang seakan meneror dan mendoktrin secara perlahan-lahan.

                *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *            

Awal mula kisah cerita antara aku dan dia (meiysa). Aku Gani murid SMA negeri di kota bandung dan aku ditemani sahabatku yang tidak lain dialah Hari. Hari lelaki yang hobinya bercanda dan sering juga memberi motivasi padaku dan teman-temannya dikelas, dia juga orangnya cerdik. Aku dan Hari berteman sejak kami duduk dibangku SMP maka tak banyak orang mencela kami seperti adik dan kakak, namun kami mengelak, karna kami adalah kawan seperjalanan.

Bukan hanya kami berdua melainkan ada Meiysa. Dia wanita yang pintar dan dia tidak mudah mengenal pada orang lain. Meiysa pun se-SMP dengan aku dan Hari, namun ku mengenali dia saat akhir tahun menuju rangkaian UN pada SMP, karna dia pindahan dari kota lain.

*             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *

Pada suatu malam, kucoba untuk mengirim pesan singkat lewat telepon genggamku, dengan sangat gugup ku mengirim pesan singkat padanya dan ternyata ia membalasku, seakan tak menyangka bahwa dia membalas pesan singkat yang dikirim oleh ku. Betapa bahagianya aku bisa berpesan singkat dengan dirinya, Meski diriku terlihat gila.

Nomor telepon ia telah ku punya pada semasa SMP dulu, namun ku baru berani sekarang untuk mengirim pesan singkat padanya. Tetapi wanita itu terasa sedih, lalu kucoba tanya padanya dan ternyata ia sedih karna kekasihnya.  Aku berdiam melihat pesan singkat darinya, dan baruku tahu bahwa dia telah mempunyai seorang kekasih, tapiku heran mengapa ku terus mendengarkan jeritan perih yang ia alami. Mungkin kebanyakan orang lain malas tuk membahas atau mungkin membalasnya tapi diriku melainkan sebaliknya, karna dengan cara inilah ku bisa mengenal sosok dia yang ku damba sejak lama. Tak dengan itu jua ku telah mengkoleksi foto dirinya, memang orang mengira aku gila, tapi yah inilah diriku yang ku bisa hanya seperti ini.

Lama terus menerus ku berpesan singkat dengannya, dia terus mencurahkan hatinya tentang kekasihnya. Disaat itu ku tak bisa pungkiri, ku tak bisa mengelak seolah-olah hati ini berteguh dengan tanganku untuk membalas pesan darinya.
--------------------------------------------------------------------------
kuakui bahwa kau sosok sempurnaku yang nyata
aku tak tau harus bagaimana menyikapinya
kuakui bahwa kau sosok sempurnaku yang nyata
tapi sayangnya ku tak berani mengungkapkan makna isi dari hati ini
(Agus Setiawan, Akan Ku Pertahankan Langkahku)
--------------------------------------------------------------------------
Hari demi hari ku lewati, pagi siang dan malam ku lalui, ku tak bisa mengutarakan bahwa ku ingin dirinya ada di sampingku. Dia selalu bercerita lewat telepon, bercerita tentang dia dan kekasihnya. Pada saat ku berdiam menunggu pesan darinya, “semoga saja dia tidak bercerita lagi tentang kekasihnya”. Ujar harapku didalam hati, lagi-lagi dia bercerita tentang ia dengan kekasihnya. Aku hanya sebagai tumpuan antara dia dengan dirinya, seketika ku lemas, didalam benak rasa hatiku berkata, “Kau tidak tahu Meiysa bahwa ku ingin milikimu tapi kau selalu bertanya dan bercerita tentangnya, Setiap ku bertanya dengan pembahasan yang lain kau seakan-akan membalikan topik bahasan yang ku harapkan”. Seakan ku terfokus pada dirinya.



--------------------------------------------------------------------------
tak sadarkah engkau, kau datang pada siapa
saat kau merasa terluka, saat kau hilang bahagia
saat ku tanya hatimu, ku yakin tutur jawabmu mengatakan diriku

tak sadarkah engkau, telingaku tlah banyak
mendengar semua tentang dirimu, semua curahan hatimu
tapi apa telingamu, pernah mendengar semua resah tentangku

ku biarkan sampai kau bisa menyadarinya
ku biarkan sampai kau sadari ku inginkan dirimu

pergilah bersama dirinya
lupakan hadirku lupakan semua tentangku
bergembiralah dengannya
anggap ku tak pernah ada dalam kehidupanmu..
selama ini
 (Twinkle And Bad Face, Sadarilah)
--------------------------------------------------------------------------
                Aku membuka jendela kamarku, ku melihat rembulan di kelilingi bintang yang terang seakan membawaku pada keindahan malam yang sangat menakjubkan dan ku lihat setitik cahaya jauh diluar astero sana, namun mengapa pikiranku terpaku pada sosok Meiysa lalu ku bertanya pada diriku ini “mengapa sosok dia selalu ada bila ku tak lagi memikirkannya ?”. Lalu ku tutup jendela kamarku kemudian ku tertidur dan lagi-lagi sosok meiysa ada didalam mimpiku. Ku lalu terbangun dan berpikir, ku bertanya lagi pada diriku, “mengapa hampir setiap hari ku seperti ini ? apakah ini menunjukan bahwa ku harus mengutarakan rasa ini padanya”.

Tidak sadar matahari pun menyinari bumi dengan cahanya lalu ku beranjak dari tempat tidurku dan mempersiapkan perlengkapan sekolah karna hari ini ku masuk sekolah.

*             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *

                Pada saat tiba disekolah, ku langsung menghampiri Hari yang saat itu berada dikantin, sesampai tiba dikantin aku langsung bertanya pada Hari tentang sosok meiysa. Hari tidak tahu bahwa aku telah lama suka padanya.
                “Ri kamu kenal dengan meiysa ?”. Tanyaku seakan-akan ku tak mengenalinya.
“kenal lah, kamu kan sama aku kenal dia sejak SMP lagian kamu sekelas dengannya. apakah kamu amnesia Gan ?”. Jawab hari dengan wajah aneh karna pertanyaan ku tadi.
“Iyah engga lah, aku boleh tanya soal Meiysa engga ?”. Dengan gugupnya aku karna baru kali ini ku menanyakan Meiysa padanya.
“Kamu suka padanya ?”. Jawab hari sambil menatap muka ku yang gugup.
“Hahh”. Lalu ku bingung karna Hari tahu bahwa ku suka padanya, tapi perasaan aku belum pernah bilang pada Hari tentang aku suka padanya.
“Engga woles ajah lagi bung”. Ujar Hari, dia selalu memanggil ku dengan tambahan “Bung”, lalu dia berkata lagi.
 “Muka mu merah tuh Gan padahal ku kan bercanda haha”. Ucap Hari dengan polosnya dan dia menertawakan ku.
“Mana engga ko”. Jawabku tertegun malu.
“Iyah, kamu tadi mau tanya apa tentangnya, sebelum aku masuk kelas nih”. Ujar Hari.
“Kamu tahu sosok dia ga ?”. Ucapku sambil berkata pelan.
“Ada apah gitu gan, biasanya juga kamu ga pernah menanyakan dia padaku”. Ucap Hari heran karna pertanyaanku.
“Engga, aku ingin tahu aja tentang dia“. Jawabku singkat.
Tak lama Hari pun berpamitan padaku karna dirinya akan melaksanakan ulangan.
“Bung aku masuk duluan, “waduh ulangan nih ! dibantai deh gue”. Entar pulang ku jawab pertanyaan mu tadi“. Ucap Hari sambil tegang.
“okeoke.. emangnya kamu ngapalin ? kemarin kan kamu main dirumah ku”. Tanyaku padanya dengan agak teriak, karna Hari telah jauh dariku.
“hehe.. kamu kaya yang gatau siapa aku saja Bung”. Jawab Hari sambil berhenti melangkahkan kakinya dan menengok kebelakang dengan tertawa ciri khasnya.
               
Memang Hari yang ku kenal dari SMP sampai SMA orangnya males belajar dia hanya membuka buku saja, tapi anehnya ia selalu bisa mengerjakan soal-soal maupun pertanyaan dari guru. Yasudah aku masuk kelas dari pada ku dikira kesiangan.

Tak lama kemudian ku dikelas bertemu Meiysa, dan aku pun berpura-pura melihat ke kursi yang akan ku duduki, karna pada saat itu aku malu padanya.

*             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *

Disaat jam pelajaran akan berakhir ku menunggu bel pulang dan tak lama kemudian bel pun berbunyi, tidak salahnya ku langsung keluar kelas, karna malu bila berlama-lama berada didalam kelas. Meiysa selalu berdiam sejenak dikelas dengan teman-temannya dan aku pun jika melihat Meiysa dengan teman-temannya selalu salah tingkah.
Setelah keluar lalu ku tunggu sahabatku yaitu Hari dan tak lama kemudian Hari pun datang bersama teman-teman kelasnya, disana teman Hari langsung meninggalkan Hari yang saat itu bersamaku. Teman-teman Hari pun menyalakan sepeda motor dan berpamit kepada Hari.
“Ri aku pulang duluan !”. Tanya Teman-teman Hari padanya, dengan melewati kami berdua.
“oke siap”. Jawab Hari sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
               
                Memang Hari orangnya gaul, akrab dan ramah dengan siapa saja, apalagi dia mendapatkan teman dikelas-kelasnya yang mau berbagi. Tidak dengan diriku yang harus belajar dikelas yang faktor drajatnya jauh dariku, paling ku kenal dikelas hanya selintas saja, maka dari itu kelas Hari dengan kelas ku berbeda, tidak hanya berpola fikir dari segi pertemanannya pun kelas Hari lebih terbuka dari pada kelasku. Karna itulah aku bila disekolah selalu dengan Hari dan tidak sedikit juga teman-teman Hari menganggapku sebagai teman sekelasnya. Kami pun pergi dari sekolah untuk bergegas menuju rumah.
“Gan”. Sapa Hari padaku sambil mengendarai motor antiknya.
“ada apa Ri ?”. Jawabku padanya.
 “bantu aku ngerjain desain baju, lumayan nih projectan“. Ucap Hari sambil memohon padaku.
“okeh gampang bos” dengan tertawanya aku, lalu ku berkata lagi padanya
“buat siapa nih ? oteng mengalir deras dong hehe”. Dengan polosnya ku merayu padanya.
 “ada ! temen nih bung, haha okeh gampang”. Jawab hari dengan senyuman nya.

*             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *

Kami pun tiba dirumah ku, dan Hari segera menyalakan komputer yang ada diatas meja. Memang Hari tidak malu-malu bila datang ke rumahku karna ia sudah terbiasa, orang tua dan kakak ku pun sudah terbiasa kedatangan Hari. Memang Hari bisa dibilang anak dari keluarga berada namun ia tidak menjadikan itu semua sebagai jaminan bahkan dia tidak menyombongkan bahwa ia orang berada. Mungkin menurutku orang seperti ia susah dicari bisa disimbolkan 1 dari 1juta orang atau bahkan lebih.

Selagi Hari sibuk berpikir untuk membuat contoh model desain baju dan aku pun menyiapkan alat tuk mewujudkan desain tersebut, disaat ku ber imaji Hari lalu beranjak dari kursi untuk menuju ke Toilet yang jaraknya dibawah.

                Telepon Genggamku berbunyi segeralah ku lihat siapa yang menelponku dan ternyata meiysa menelponku, disaat itu ku heran “mengapa meiysa menelponku, baru kali ini ia menelponku, biasa ia hanya mengirim pesan singkat padaku. Tapi tak apalah” ucapku dalam hati. Lalu tak lama ku terima telepon darinya, ternyata besok ia mengajak ku untuk mengantar dirinya ke toko buku, ku bahagia bercampur heran. Tak lama lalu datanglah Hari dengan wajah bingung karna memikirkan project desain tersebut.
                “kenapa Ri ?”. Sapa ku padanya dengan sedikit senyum karna kejadian tadi.
                “aku bingung nih Gan, desain itu takut belum selesai”. Jawab Hari dengan muka kecut.
                “memangnya kapan dikirim itu desain ?”. Ucapku pada Hari.
“besok nih”. Jawab Hari dengan singkat.
“yaelah Ri, bukannya bilang dari tadi ! ngebut ajah nih. Semoga besok bisa dikirim tuh orderan”. Ucapku sambil menegaskan padanya.
“okeh siap bung Gani hehe”. Jawab Hari dengan senyum ciri khasnya.
“baru bisa ketawa”. Celaku padanya dengan sedikit menyindir.
“hahahaha”. Semakin jelas tawa dari seorang Hari.

Selagi kami mengerjakan desain yang akan dibuat, Hari yang sedang merancang dengan manual dan akupun meneruskan gambaran dari Hari menggunakan “waxom” tiba-tiba Hari menyinggung aku untuk melanjutkan obrolan tadi pagi dikantin. Disaat kami terus membicarakan tentang sosok Meiysa Hari pun memberi saran dan memberi masukan padaku setelah saran dan masukan yang Hari berikan, akupun coba pahami dan pada akhrinya Hari mendukung agar aku bisa dapatkan dirinya yaitu Meiysa.
 Malam semakin gelap, bulan pun semakin bulat, tanpa sadari kami mengerjakan hingga larut malam dan akhirnya desain itu selesai. Kami berdua pun lalu tertawa karna akhirnya project desain baju itu bisa kami atasi. Ku coba berbaring dikasur untuk merehabkan otot pegal yang ada di tubuh dan Hari pun berkata.
“Gan besok anter aku ke rumah temenku, dia minta anter desainnya”. Tanya Hari.
“Waduhh sorry Ri, kayanya gabisa aku besok ada urusan”. Jawabku padanya, sebenarnya aku tak ingin mengatakan hal ini padanya tapi besok aku harus pergi ke toko book bersama Meiysa.
“yahh.. tapi tak apalah, tapi ini terima kasih atas bantuanmu bung”. Ucap Hari sedikit kecewa karna tak bisa ku antar dirinya namun semua kecewa itu hilang disaat dia melihat desain baju tersebut sudah ada di genggaman tangannya.
“Iyah siap, kalo bisa project desainnya setiap hari yah Ri”. Ucapku sambil ketawa.
“okeh siap bung”. Jawab Hari sambil ia keluar dari rumahku.

*             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *

Matahari terbit bulan pun tak terlihat, awan pun berwarna biru, bangunku dari tidur lalu ku tak sabar untuk menunggu jawaban dari Meiysa, tidak lama Meiysa menyuruhku ke tempat toko buku yang dijanjikan ia semalam. Ku langsung bergegas dan tak lupa berdo’a, terlihat mulutku berkomat-kamit  agar hari ini dia bisa menerima ku.

Segera tiba didepan toko buku tersebut lalu ku kirim pesan singkat padanya dan ia pun membalas, ia menyuruhku masuk ke toko buku tersebut karna Meiysa telah berada didalam toko tersebut.
       “maaf yah kamu jadi menunggu lama”. Sapaku pada Meiysa dengan terrguk malu dan Meiysa terlihat sedang menungguku
“engga ko Gani, ini juga aku baru sampai“ Jawab Meiysa dengan senyuman indahnya. Ku merasa gugup dekatnya.



--------------------------------------------------------------------------
terbit sang fajar diufuk timur
membawa nafas ini terhentak
melihat semua disana sini
ku hanya terpaku padamu

bersinarlah engkau wahai pelangi
hapus cerita obsesi dahulu
karna adaku disini menanti
harapku selalu bersamamu
                                                                                                (Agus Setiawan, Sosok SempurnaKu)
--------------------------------------------------------------------------
 Aku dan Meiysa lalu mencari Buku Novel yang disukai Meiysa. Disana pun aku mencari momen yang tepat untuk mengungkapkan isi hatiku padanya, seiring menunggu momen itu aku coba untuk berinteraksi dengannya dan jauh mengenal dia, dengan berdekatan inilah ku bisa bersamanya. Setelah lama mencari akhirnya Novel itu berhasil ku temukan dan segeralah ku memberitahu Meiysa bahwa Novel yang ia cari sekarang ada ditangan kananku, Meiysa pun datang menghampiri ku. Menurutku ini momen yang tepat untuk mengutarakan perasaanku padanya.

Novel itu ku pegang lalu ku kasih padanya, pada saat itu Meiysa berada dihadapan ku dan aku berkata.
“maukah kau jadi peri hatiku ?”. Tuturku padanya dengan melihat ke arah bawah lantai, karna ku gugup dan malu. Ternyata Meiysa terteguk merasa heran karna mungkin ku bisa berkata seperti itu.

Dia yang ku harap menjawab dengan satu kata “MAU” ternyata ia hanya tersenyum melihatku dan mengambil Novel itu di genggamanku, setelah Novel itu berada ditangannya dengan menarik nafas ia berkata.
“maaf Gani aku tak bisa menerimamu”.  Ia yang ku kira akan menerimaku tapi ternyata malah menolak ku.

Lalu ku dengan tegas berkata padanya.
“mengapa ? apakah kamu masih mempunyai kekasih ?”. Tanyaku padanya.
“kamu adalah teman ku yang paling mengerti dan aku telah tidak berhubungan lagi dengannya”. Tutur jawabnya.
“tapi aku inginkan mu Meiysa. Lagi pula kenapa kamu tidak bilang padaku ?”. Ujarku padanya.
“iyah aku tahu, mengapa meski bilang padamu”. Jawabnya.
“tapi kamu tahu dari siapa bahwa aku suka padamu ? biasanya kamu bercerita banyak padaku”. Ucapku padanya.
“Hari,ia bercerita bahwa kamu suka padaku sejak kita masih duduk di SMP dan ia juga ingin aku menerima mu, tapi aku tak bisa karna menurut ku kita hanya berteman saja”. Ucap Meiysa meyakinkanku.
“yasudah meiysa, aku juga dari awal sudah menebak bahwa pada akhirnya kamu juga takkan menerimaku”. Ucapku tertekuh lesu.
“maaf yah Gan”. Jawab Meiysa dengan perkataan lembut karna dirinya terasa bersalah jadi ia pun tak enak padaku.
“iyah taka pa ko”. Ucapku dengan tersenyum. Namun tak bisa ku pungkiri aku hanya dianggap sebatas teman olehnya.
--------------------------------------------------------------------------
tuliskanlah cerita tentang rasa bahagia
kau dengannya disana, merasa semua sempurna
mungkinku disini kau anggap teman biasa
tapiku ingn kau anggap ku lebih dari temanmu
(Twinkle And Bad face, More Than Friend)
--------------------------------------------------------------------------

*             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *

Besoknya ku berbicara pada sahabatku Hari dan Hari pun membantu ku untuk tidak terlalu memikirkan meiysa.
“Ri kamu sudah tahu tentang semua ini”. Ucapku pada sahabatku Hari.
“iyah Gan, maaf sebelumnya aku tidak memberi tahu mu bahwa pada akhirnya akan miris jua”. Ucapnya padaku dengan mengelus pundak ku.
“tak apah lagi Ri”. Jawabku padanya.
“yasudah jangan pikirkan dia lagi, masa temanku cengeng”. Ucapnya yang coba menghiburku.
“iyah siap bung Hari”. Jawabku dengan tersenyum sambil mendorongnya.

Banyak orang tidak tahu tentang aku dan Meiysa, yang tau hanyalah sahabatku Hari. Dan hari ternyata sudah tahu bahwa aku suka pada Meiysa sejak di SMP dulu, ku tak tahu mengapa Hari bisa tahu tentang hal tersebut tapi yasudahlah toh hasilnya nihil.

*             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *

Meiysa dan aku masih menjaga keharmonisan pertemanan, dia sering mengajak ku keluar dan aku pun sama, berpesan singkat, nelepon namun semua itu ia masih anggapku teman. Namun Hari dan Meiysa tidak tahu menahu, bahwa ku sebenarnya masih memendam rasa pada Meiysa. Dambaan akan angan-angan bersama putri senanjung yang ku inginkan sejak lama dan bermahkotakan perasaan itu yakni “Meiysa”.

Lalu kami bertiga pun “Lulus” sekolah, Hari menganggap bahwa aku sudah lupa dengan kejadian di toko buku itu, lagi pula Hari tau sekarang bahwa ku sibuk dengan pekerjaanku menjadi Designer, Editoring and Handling disalah satu Brand terbaik dan tertua asal US ini yaitu R** ***L dan dia juga tahu kesibukan kuliahku jurusan MUSIC and LITERATURE (karna aku lagi-lagi sekampus dengannya).Tak hanya itu juga, ku membuat project music dengan berduet bersama Hari “sahabatku” dengan genre pop-ballad. Namun Meiysa meneruskan kuliahnya di negeri sebrang sana, tapi kami sering menanyakan kabar satu sama lain. Aku dan Meiysa pun masih sebatas teman tidak lebih.
--------------------------------------------------------------------------
Aku sadar siapa diriku yang tidak mungkin menggapaimu
kau terlalu indah untuk jadi kenyataan
namun bila ada sedikit ruang hati untuk kusinggahi
takkan pernah ku sakiti dan takkan pernah ku berpaling
(Fiersa Besari, Kamu)
--------------------------------------------------------------------------
*             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *
--------------------------------------------------------------------------
berdiri di atas kemang
menanti waktu memihak
sunyi yang tak mau pergi
hati berlari memeluk mu

tangan ku kosong genggamlah
pundak ku kuat rebahlah
sampai kapan kau membeku ?
sembunyi di rasa sakit mu

coba kau cari siapa yang mampu menunggumu
akulah orang itu akulah orang itu
dan bila ada yg ingin tua bersamamu
akulah orang itu akulah orang yang kau cari

disisi gelap merindu
terbata untuk memulai
biar ku basuh perih mu
meski tak berbalas apa pun

terhempas membias dan tak tentu arah
kau terus pergi
memberi harapan menafikan lagi dan lagi
                                                                                                (Fiersa Besari, Kala)
--------------------------------------------------------------------------

*             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *             *


Karya, Agus Setiawan

1 komentar:

  1. alurnya bagus, mudah dipahami dan diresapi. serasa jadi si aku, cuma masih agak kaku yah tulisannya, dan masih gantung banget masih penasaran sama kelanjutannya hihi

    BalasHapus